Rabu, 20 April 2011

J-Culture : NEET Generation

Mungkin banyak diantara kalian yang belum tau apa itu NEET. NEET merupakan singkatan dari Not in Employment, Education, or Training, dimana istilah ini muncul pertma kali di Inggris pada tahun 90-an yang ditujukan untuk para pengangguran berusia antara 16-18 tahun yang tidak mau bersosialisasi dalam masyarakat. Istilah ini belakangan menyebar ke negara maju lainnya termasuk Jepang, karena negara ini juga punya masalah yang serius dengan generasi mudanya yang tidak memiliki keinginan untuk bekerja. Berbeda dengan di Inggris, para NEET di Jepang kebanyakan berusia produktif antara 15-34 tahun, dimana status mereka dalam masyarakat tergolong sebagai orang yang tidak memiliki pekerjaan, tidak menikah, dan tidak terkait studi ataupun pekerjaan rumah tangga. Di Jepang para NEET ini dikenal juga sebagai mugyousha ( orang yang tidak bekerja alias pengangguran). Ironisnya bila NEET di negara lain banyak terjadi di kalangan yang kurang mampu, NEET di Jepang justru terjadi di kalangan orang yang ekonomi keluarganya mapan. NEET ini berbeda dengan freeter (pengangguran yang sedang berusaha untuk mencari pekerjaan tetap), atau rounin (bekas pegawai pemerintah yang sedang menganggur), karena orang-orang yang tergolong sebagai NEET sama sekali tidak memili hasrat untuk bekerja....

NEET mulai muncul di Jepang pada tahun 1997 bertepatan dengan krisis moneter. Saat itu ada sekitar 80 ribu anak muda yang sudah lulus sekolah namun memilih untuk menganggur tanpa melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Padahal saat itu lapangan pekerjaan masih cukup luas dan persaingan kerja belum seketat seperti sekarang ini. Pada tahun 2000, angka itu mengalami peningkatan hingga 5 kali lipat menjadi 400 ribu orang. Menurut penelitian institut ketenagakerjaan di Jepang, ada 4 kategori untuk NEET ::

1. Yankee kata (tipe Yankee)
NEET tipe ini ditujukan untuk orang yang lebih suka bersenang-senang dengan temannya daripada bekerja. Biasanya orang-orang dengan tipe seperti ini menggantungkan hidup pada orangtuanya yang mapan, sehingga sering disebut sebagai parasit freeter.

2. Hikikomori kata (tipe penyendiri/mengurung diri)
Orang denga tipe seperti ini lebih suka menyendiri dan menarik diri dari pergaulan sosial. Di Jepang, NEET dengan tipe seperti ini biasanya banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktunya dengan bermain internet. Dari ketiga tipe lainnya, NEET tipe ini biasanya mengalami kebosanan hidup dan banyak ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melakukan jisatsu (bunuh diri)

3. Tachisukumu kata (tipe ragu-ragu)
tipe seperti ini biasanya merupakan lulusan perguruan tinggi yang tidak bisa memutuskan masa depannya.

4. Tsumazuki kata (tipe gagal)
Ditujukan utuk orang-orang yang pernah bekerja namun mengalami kegagalan dan sejak itu trauma sehingga tidak memiliki keinginan untuk bekerja kembali. Tipe ini juga ditujukan untuk orang yang gagal mendapat pekerjaan karena tidak punya rasa percaya diri. 

Kalau ditinjau lebih jauh, sebenarnya lingkungan keluarga dan tempat kerja juga merupakan faktor pendukung yang menyebabkan seseorang menjadi NEET. Di Jepang seringkali ditemukan orang tua yang terlalu memanjakan atau over protecting terhadap anaknya, sehingga si anak menjadi terbiasa menggantungkan hidup pada orangtuanya. Di lain pihak perusahaan juga sering merekrut pegawai yang sudah berpengalaman, atau memberi "gap" berupa perbedaan honor antara pegawai tua dan pegawai muda. Bila NEET tidak ditangani secara serius, bukan tidak mungkin Jepang yang dikenal sebagai negara maju di asia akan mengalami masalah perekonomian di masa mendatang.. Apakah NEET juga ada di Indonesia ???? Semoga saja tidaaak.......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar