Rabu, 20 April 2011

J-Culture : NAGASHIBINA


Sejak dulu boneka sudah menjadi bagian penting bagi anak perempuan di Jepang. Setiap bayi perempuan yang baru lahir, ataupun berusia setahun, ia akan dihadiahkan boneka oleh orang tua atau kakek neneknya, bahkan pengantin wanita juga biasanya akan menerima boneka yang seperangkat dengan gaun pengantinnya. Tak heran apabila di Jepang ada sebuah festival boneka khusus anak perempuan, yang dikenal dengan istilah hinamatsuri. Sesuai dengan namanya, festival yang dirayakan setiap tanggal 3 Maret ini berkaitan erat dengan boneka. Pada saat itu hampir di setiap rumah yang memiliki anak perempuan memajang rak bertingkat 5 atau 7 yang berisi boneka. Awalnya hinamatsuri tidak terlalu dirayakn besar-besaran, tapi sejak boneka hina [hina-ningyou] dijadikan barang dagangan pada periode Meiji (1868-1912), festival ini menjadi terkenal di seluruh daerah Jepang, dan menjadi salah satu festival terbesar di bulan Maret. Selain rak pajangan berisi boneka, hal lain yang sangat terkenal dalam festival ini adalah hina-nagashi yaitu nagashibina.

NAGAHSIBINA


Nagashibina berasal dari kata nagasu [mengalir] dan hina [boneka], yang berarti menghanyutkan boneka ke sungai. Berbeda dengan boneka yang dipajang di atas rak, nagashibina merupakan boneka yang terbuat dari kertas origami atau tanah liat yang biasanya dibuat berbentuk sepasang manusia [katashiro], lengkap dengan pakaian kimono. Boneka tersebut diletakkan di sebuah keranjang bundar terbuat dari anyaman jerami, lalu dihanyutkan ke sungai pada acara hina-nagashi matsuri yang diadakan di kuil-kuil Shinto.  Nagashibina juga ada yang dibuat dari kertas origami saja, tanpa diletakkan di dalam keranjang jerami. Tujuan dari menghanyutkan nagashibina adalah agar segala hal yang buruk dapat dibuang jauh-jauh. Semakin jauh boneka itu hanyut, maka nasib buruk pun aka semakin menjauhi orang yang menghanyutkan boneka tersebut. Menurut agama Shinto, segala penyakit dan kesialan yang dialami manusia bisa ditransfer ke dalam tubuh boneka. Boneka yang dihanyutkan ke sungai ini dipercaya akan terbawa hingga ke laut menuju pulau dewa. Kepercayaan semacam ini sebenarnya berasal dari China, dimana negara tersebut pernah mengadakan ritual memindahkan roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka yang kemudian dihanyutkan ke sungai. Sambil menghanyutkan nagashibina, mereka berdoa meminta keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan. selain kepercayaan ini, ada juga legenda dari Jepang yang mengisahkan bahwa dulu di Jepang ada 2 orang pangeran bernama Izanagi dan Izanami. Sutau hari Izanagi mengunjungi neraka tempat Izanami tinggal setelah ia mati, lalu membawanya kabur dari tempat itu. Sepulangnya dari neraka, Izanagi menghanyutkan boneka untuk mengusir roh jahat dari tempat tersebut. Dari legenda itulah orang Jepang percaya bahwa segala hal yang buruk bisa dibuang dengan cara menghanyutkan boneka ke sungai pada festiva hinamatsuri.


Beberapa kuil shinto yang terkenal dengan hina-nagashi matsuri antara lain kuil awashima di Wakayama, kuil Hokyo di Kyoto, prefektur Nagano, dan prefektur Tottori. Menjelang perayaan hinamatsuri, daerah-daerah tersebut biasanya menjual boneka hina. Banyak di antara pembeli yang membeli 2 set boneka, dimana yang satu dipajang di rumah sedangkan yang lain dihanyutkan di sungai. Setelah satu tahun kemudian, boneka yang dipajang itu akan dihanyutkan ke sungai pada perayaan yang sama.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar