Rabu, 13 April 2011

Di atas KebesaranMu

Dengan sepasang ma'rifat............
Aku tebang di atas kebesaran - Mu.........
Melayangkan dzikir dan do'a...........
Luluh dalam sembahyangku..............
Bersama cinta aku bersila............
Menyatukan batin dan iman.................
Di antara langit dan bumi.........
Aku melebarkan hati pada titah -Mu.............
menempuh ruang - Mu...........
Aku nantikan cahaya seribu bulan,di atas kebesaran - Mu............

Desah

Kalau ada senja yang kelam,gerimis,dan muram..
Itu adalah milikku..
Kalau ada dingin yang beku dan mencekam..
Itu adalah milikku..
Kalau ada angan yang hitam dan mencekam..
Itu juga milikku..
Dan ketika aku ada..
Pasti bukan milik siapa-siapa..

Sua Pertama Kita

Kita berkenalan waktu itu..
Ku ucap lirih namaku perlahan..
Bergetar tangan,berjabat,,seakan enggan lepaskan...
Kau dan aku bersitatap dekat..
Oh,tatap matamu bak elang liar.. Menghujam,tembus d ulu hatiku..
Duuh,hatiku bergetar dalam gejolak bisu..
Kurasa panas mataku,bersipandang tajam..
Entah rona apa terbias..
Tak tahan aku..lalu,tertunduk diam..
Sua pertama kita sarat kesan..
Benam dalam hati nan dalam..
Lahirkan angan dan harapan..
Menuju masa depan..

Jarak

Di pesisir ini,aku bagai seekor ketam..
Merangkaki pasir,menolak kekalahan..
Mungkin kau berada di pantai yang lain.. Aku tak tau..
Tapi pasti tak ku cium sengit bau keringat mu..
Di laut ini,aku bagai sebuah sampan..
Timbul tenggelam di permainkan gelombang..
Mungkin kau berada di laut yang lain.. Aku tak jelas...
Tapi nyanyianmu merdu ku dengar dari angin ke angin..
Aku bukan pencemburu,tapi tengoklah wilayahmu..
Meski sebentar,jarak, waktu bukanlah permainan..
Tempat kita berlaga,mencari siapa sang pemenang..
Lalu melengos,menampik uluran persaudaraan..
Jarak bukanlah jalan aspal dan lorong kelam..
Jarak bukan pula gedung beton dan perkampungan..
Dimana kita sama -sama menatap bulan..
Dalam bahasa yang berlainan..
Jarak adalah ketika kita jadi Si Malin Kundang..
Yang tak tau : Mana Batu,Mana Hati Kemanusiaan.......!!!

Tanya Hati

Mengapa duka dan air mata tak mau pergi..?
Mengapa lara terus menghiasi diriku..?
Walau mentari datang membakar diri,aku tetap diam..
Salahkah cinta yang tak mau hadir dalam hidupku..? Salahkah aku yang tetap memilih sendiri..? Salahkah ikrar yang telah terucapkan dulu..? Lalu yang benar seperti apa..?!
Kenyataan di sekelilingku yang telah mengajarkan aku,betapa cinta begitu menyakitkan..
"ia datang menawarkan sejuta pesona dan pergi membawa berlaksa ceria"
aku tak mau...!! Aku enggan melewati hariku dengan kedukaan yang panjang,hanya karena sebuah cinta pergi..
Aku ingin tetap memiliki diriku sendiri tanpa kehadiran orang lain yang nantinya malah memporak- porandakan segala yang sudah ku bangun susah payah..
Takkan kurelakan..!!
Tapi,rupanya konsekuen pada prinsip membuatku harus meniti hari sendiri,di temani beribu tanda tanya dalam hidupku...

Syair Rinduku

Di saat mentari menjelang ke peraduannya...
Dunia bernyanyi menyambut senja tiba...
Hatiku sepi berselimut duka cita...
Senja semakin larut membisu...
Dan hatiku pun kian mengelabu...
Dengan tarian pena di jemariku...
Ku goreskan syair rindu untukmu...
Harapanku kau takkan melupakan...
Akan daku yang jauh berkelana...
Ku hapus sudah memori lama...
Bersama larut malam yang tak bercahaya...

Sayang Kita Tak Pernah Bicara

sayang kita tak pernah bicara..
membiarkan angin,menggugurkan bunga-bunga akasia satu-satu di kepala kita..
mawar mekar harum..
semakin menyembunyikan diri dari tatapan..
hingga kata-kata begitu saja tersesat..
dan hilang di sepanjang jalan..
jalan yang pernah iri akan cengkrama kita..
tanpa arti berlebih dalam kelembaman hati..
sayang kita tak pernah bicara..
tentang gugurnya bunga-bunga akasia sehabis gerimis..
tentang mawar mekar harum di pojok jalan..
atau tentang apa saja,
yang mengabadikan, yang mengekalkan sesuatu..
yang tak tersapa di antara kita..